Judulnya emang agak sedikit serem; Money Monster. Tapi, genre-nya sama sekali bukan Horor dan nggak ada kemunculan ‘monster‘-nya. Just another financial-thriller movie like wolf of wall street, Wall Street: Money never sleep and the latest one; Big Short. Daya tarik pertama film ini buat gua (selain judul-nya) adalah pemain dan sutradara-nya. Nih film diperankan sama Jack O’Connell (Unbroken, Starred Up, United), George Clooney (Up in the air, Ocean trilogy, Syriana) dan Julia Roberts (Nothing hill, Pretty Woman, Eat pray love). Dua nama terakhir kualitas akting-nya nggak perlu kita perdebatkan, ya walaupun si Jack O’Connell juga bukan aktor maen-maen, menang tiga awards dari filmnya yang Starred Up, jelas bukan prestasi maen-maen.

 

image source : http://wegotthiscovered.com/

Ini adalah film ke-4 yang disutradai oleh Jodie Foster, setelah beberapa film sebelumnya nggak begit menarik perhatian gua, kecuali; The Beaver. First impression nih film, roman-romannya bakalan sama modelnya kayak Wall Street: Money never sleep, cuma aja Money Monster keliatan lebih ‘light‘, lebih ringan (di awalnya). Tapi, ternyata seiring berjalannya film, plot cerita semakin serius dan tambah serius. Konsep cerita-nya memang tentang finansial, tentang saham, investasi dan laba-ruginya. Tapi, ternyata bukan hanya itu yang jadi fokus topik ni film, melainkan tentang efek investasi dan penyalahgunaan dana oleh broker saham. Awalnya gua sedikit ragu mau nonton noh film, takut kayak film bertema finansial sebelumnya; Big Short, yang isinya bener-bener tentang saham, infestasi dan dengan semua istilah-istilah yang sulit dicerna oleh orang awam kayak gua. Dan seperti gua bilang diatas, ternyata film ini nggak se-njelimet Big short, bahkan lebih sederhana dari Wolf of wall street-nya Leonardo diCaprio.

Jadi, begini cerita-nya (pasang musik dari opening scene-nya Si Doel anak sekolahan)

Lee Gates (George Clooney) adalah sebuah pembawa acara televisi berjudul ‘Money Monster’ (Ho-oh betul, nama film ini diambil dari judul acara ini) yang isinya tentang financial plan-advisory. Jadi, di acara TV ini si Lee Gates memberikan nasihat, saran dan juga berita terbaru tentang keuangan, bursa saham sampe cara mengelola keuangan. So far, acara TV yang di produseri sama Patty Fenn (Julia Roberts) ini berjalan baik, sampai suatu hari, saat acara sedang berlangsung ‘Live‘, ada seorang pemuda asing masuk kedalam studio dan meng-interupsi acara. Pemuda ini lalu mengeluarkan senjata dan mulai melakukan teror dengan memasangkan rompi bom kepada si Lee Gates. Kyle Budwell (Jack O’Connell), nama pemuda itu yang meneror acara Money Monster mengajukan tuntutan; untuk mengembalikan uang-nya yang raib gara-gara investasi yang gagal. Usut punya usut ternyata si Lee Gates (di beberapa episode Money Monster sebelumnya) pernah menyarankan kepada pemirsa untuk meng-investasi-kan uang mereka ke perusahan Broker bernama IBIS, Lee Gates PD abis-abisan kalo IBIS ini bakal menguntungkan, bahkan si Lee sempet berkoar kalo ber-investasi di IBIS lebih aman daripada menabung di bank. Nah, si Kyle percaya trus menghabiskan seluruh uang-nya dan ternyata… dengan alasan Glitch (bug pada sistem komputer) IBIS mengalami kerugian dan semua uang investornya raib (Which is dalam dunia saham hal seperti ini terdengar lumrah). Dan tuntutan si Kyle ternyata nggak sesederhana itu, doi juga minta si pemilik IBIS; Walt Camby (Dominic West) dihadirkan di studio untuk menjelaskan apa yang ‘sebenernya’ terjadi, karena si Kyle ini nggak percaya kalo perusahaan sebesar IBIS bisa kehilangan uang dalam jumlah banyak hanya gegera ‘Glitch‘ komputer.

Sisa filmnya silahkan di tonton sendiri.

Sebenernya gua nggak pengen bahas perkara kualitas akting para pemain di Money Monster ini, karena gua rasa nggak bakal ada celah. Tapi, kayaknya kurang afdol kalo nggak dibahas walau setetes sedikit. George Clooney punya peran penting banget disini, role-nya dimulai dari awal film sampai ending, kalo mau nyoba ngitung (silahkan), mungkin hanya sepersekian persen aja si Om Clooney ini nggak ada dalam frame. Iya, jadi jangan bosen kalo sepanjang film elu terus-terusan ngeliat mukanya si George Clooney ini. Bagusnya, dengan role yang seperti itu, Om Clooney berhasil banget memerankan tokoh pria gaek populer yang fashionable, playboy, egois dan takut mati. akting-nya bikin penonton sebel sekaligus prihatin sama doi. Begitu pula dengan Julia Roberts yang pada prosesnya berhasil membangun chemistry antara produser dengan pembawa acaranya. Nah, masalah chemistry, si Jack O’Connell yang meranin pemuda desperate yang melakukan teror juga berhasil membangun ikatan ‘aneh’ dengan George Clooney, ikatan yang justru keliatan janggal karena terbangun antara si penyandera dengan korban-nya. So, Jack O’Connell jelas nggak bisa dikesampingkan kualitasnya cuma gara-gara beradu akting sama George Clooney dan Julia Roberts.

Plot-nya terbilang sederhana untuk film sejenis ini, nggak ada twist dan tempo-nya dibuat sedikit cepat. Yang gua suka dari plot film ini adalah, dari awal film sampai terjadinya konflik nggak dibuat bertele-tele dan berkepanjangan, cepat, to the point. Namun setelah itu, tempo berjalan statis hingga mendekati klimaks menuju ke akhir film.

Walaupun hampir tanpa cela, nih film tetep ada sedikit janggal-nya (buat gua). Kejanggalan pertama; Saat terjadi Kyle menginterupsi acara lalu melakukan teror dengan senjata dan bom, acara TV terus berlangsung ‘Live’. Padahal seharusnya (sotoy banget dah gua) acara harus langsung dihentikan, apapun alasannya. Kejanggalan berikutnya; ini perkara teknis sih sebenernya, saat kejadian di lift, si kameraman tetep bisa melakukan pengambilan gambar, padahal kamera yang digunakan sama si kameraman adalah kamera yang sama yang digunakan di studio, yaitu kamera non wireless. Pertanyaannya, bagaiman si kamera bisa menyiarkan hasil rekaman didalam lift? Ah, mungkin kameranya udah canggih sekali, sehingga bisa mengambil gambar didalam lift sekaligus menggunakan flash dan melakukan transmisi live melalui studio. Dan ada beberapa sedikit error kecil lainnya, yang sebenernya kejanggalan dan error ini nggak gitu essensial ngaruh ke kualitas filmnya.

Overall, filmya layak tonton. Bisa di tonton bareng keluarga, karena sama sekali nggak ada nudity, tapi perlu sedikit pengawasan kalo nonton bareng anak-anak, karena berisi banyak ‘todongan‘ senjata. Filmnya juga cukup bisa di nikmati sambil santai, karena walaupun isinya tentang finansial, tapi penggunaan istilah-istilah finansialnya masih dalam batas orang awam. Oiya, sedikit banyak nih film mengajarkan kita tentang betapa risky-nya bermain saham atau hal semacamnya. So, kalo lu punya rencana untuk maen saham, trading, forex atau hal semacam-nya better lu punya pengetahuan yang cukup tentang hal tersebut atau tonton nih film. Worth to watch!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s