Banyak orang bilang saga Underworld cuma film blockbuster kacangan yang kurang apresiasi. Ditilik dari tema yang diangkat (tentang vampire dan warewolf), bisa jadi penyebab-nya gara-gara Twilight, film dengan genre nyaris serupa namun tak sama ini bikin kualitas saga Underworld jadi keliatan seperti nggak berkelas. Nyatanya, Underworld udah berhasil melanjutkan 4 film setelah bagian pertamanya keluar di tahun 2003. Berarti, dalam range waktu 14 tahun, saga ini bisa mempertahankan eksistensinya dengan sukses. Jelas bukan perkara kacangan kan?

Image source: https://www.comicbookmovie.com
Image source: https://www.comicbookmovie.com

Kali ini Underworld: Blood Wars bercerita beberapa tahun setelah part terakhir dari film Underworld sebelumnya; Underworld: Awakening. Dimana, dikisah sebelumnya Selene; diperankan Kate Beckinsale, seorang Vampire Dealer (sebutan untuk prajurit vampir terbaik) yang baru tau kalo doi punya anak dari hubungannya dengan Michael dan anaknya adalah seorang Hybrid (campuran antara Vampire dengan Lycan). Di film ini, si anaknya Selene dijadikan buruan karena darahnya, bisa membuat vampire maupun Lycan menjadi sangat kuat bahkan mendekati immortal. Selene, dibantu sama David; diperankan oleh  Theo James (Allegiant, Divergent, Insurgent) sesama vampire yang kayaknya jatuh hati dengan Selene, mereka berdua berusaha untuk menghentikan perburuan terhadapa anak Selene, yang mana si Selene-nya sendiri pun nggak tau lokasi persembunyian anaknya.

Nggak cuma perkara itu doang, dengan alasan ingin memberikan pelatihan kepada para vampire muda, Tetua dewan vampire; Semira (Lara Pulver) ternyata punya niat busuk untuk mengkhianati Selene dan David. Jadi, si Selene ini terjebak dalam pilihan yang berbahaya; diburu para Lycan untuk mengetahui persembunyian anaknya dan dikhianati oleh klan-nya sendiri, what a mess!

Cerita lengkapnya silahkan tonton sendiri.

Buat gua secara pribadi, film ini (termasuk seri-seri sebelumnya) masih begitu-begitu aja. Nggak ada terobosan berarti yang bikin greget, kayak di film pertamanya dulu. Wajar aja sih kalo nih film nggak bisa sepopuler Twilight, karena emang si penulis kayaknya nggak mau menggadaikan konsep ceritanya jadi agak drama-romance model twilight. Plot-nya masih sedikit gampang ketebak, nyaris nggak ada twisted, kecuali di bagian musuh terakhirnya yang ternyata seorang….(silahkan tonton sendiri) dan itu pun nggak twisted2 amat. Kualitas akting para pemerannya pun nggak spesial-spesial banget, mungkin sedikit pengecualian buat Theo James yang sedikit lebih menonjol dibanding dengan yang lain. Mungkin nilai tambah bisa diambil dari scoring musik dan sinematografi-nya yang sejak dari film pertamanya emang udah keren dengan nuansa dark yang minimalis.

Overall, nih film emang layak dapet predikat ‘kentang‘ (kena tanggung). Konsepnya lumayan konsisten, tapi eksekusinya kurang greget, begitu pula faktor pendukung yang lain. Masih layak tonton sih, tapi kalo dibioskop kayaknya kurang ikhlas juga ngeluarin duit untuk film ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s