This is Fast food nation. Pernah makan di McD (baca: McDonald)? Ah pasti pernah dong. Kalo nggak pernah makan disana, paling nggak pasti pernah ngelewatin restaurant dengan papan nama M raksasa ini dong? Sampai akhir 2016 kemarin, udah ada 168 restoran McD di 32 kota di seluruh Indonesia (data dari situs McDonald Indonesia). Buat gua sendiri, McD terkenal bukan cuma karena Burger-nya, bukan juga karena Ronald McDonald si maskot, melainkan karena logo-nya yang familiar dan kerap dijadikan landmark atau patokan lokasi buat sebagian orang buta arah kayak gua.

Image Source: Youtube.com

Nah, McDonald sendiri udah hampir 25 tahun hadir di Indonesia. Pas taun 90-an sempet tenar jingle ‘Mana Lagi’ yang mempopulerkan nih restoran. Beberapa tahun kemudian Jargon ‘I’m Lovin’ it’ muncul menggantikan jingle ‘Mana lagi’ yang bikin tambah populer nih restoran. Kayaknya cukup sampe disini aja deh prolog perkara McDonald di Indonesia, lalu kenapa gua kasih prolog seperti ini? karena eh karena film yang bakal gua bahas, erat banget hubungannya dengan McDonald dan sejarahnya.

The Founder, sebuah film yang diperankan oleh Michael Keaton (Spotlight, Need for Speed) dan disutradari oleh John Lee Hancock si spesialis film sejarah dan biografi kayak;  The Alamo, The Blind Side dan Saving Mr. Banks. Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata, tentang asal muasal restoran McDonald dari hanya sebuah restoran kecil di pinggiran kota hingga saat ini mampu dinikmati jutaan orang di seluruh penjuru dunia.

Ray Kroc
Ray Kroc | Image Source: Thefamouspeople.com

Tersebutlah seorang sales mesin mixer bernama Ray Kroc (yang diperankan oleh Michael Keaton). Doi memasarkan mesin nya tersebut dari satu restoran ke restoran lainnya, dari kota satu ke kota lainnya, bahkan hingga melewati batas negara bagian. Bisa dibilang hasil penjualannya nggak jelek-jelek banget, tapi karena pribadi si Ray yang gigih dan nggak pernah ngerasa ‘cukup’, doi terus berusaha menjual  mesinnya tersebut. Saat itu, awal 1900-an di Amerika sana memang sedang populer yang namanya restoran drive-in. Dimana, si pemesan bisa memesan dari dalam mobilnya yang kemudian pesanannya diantar oleh pelayan ke mobilnya.

Suatu hari Ray dapet pesenan 8 mixer dari sebuah restoran di San Bernardino, California. Ini bikin Ray kaget dan penasaran. Kaget karena banyak dari restoran drive-in yang pernah doi tawarin mesin mixer menolak mentah-mentah mesin mixer-nya, lho kok ini tiba-tiba ada restoran yang mau beli mesin mixer sampe 8 biji! Penasaran, Ray meluncur langsung ke lokasi restoran tersebut. Sampe disana, Ray kaget melihat sistem yang berbeda dengan yang biasa doi lihat di kebanyakan restoran drive-in yang pernah doi datengin. Di restoran milik Dick dan Mac McDonald ini, para pemesan harus turun dari mobil dan antri untuk mendapatkan pesanan mereka. Dan yang paling bikin Ray kagum adalah pesanan langsung tersedia beberapa menit begitu doi memesan. Ini jelas berbanding terbalik dengan sistem yang biasa ditemukan di restoran drive-in kebanyakan, dimana si pelanggan harus rela menunggu lama hanya untuk sebuah burger dan segelas softdrink.

McDonald brothers
McDonald brothers | Image Source: https://newsin.asia

Nggak pake basa-basi, Ray lalu mengajak makan malam Dick dan Mac McDonald untuk berbagi kisah kesuksesan restoran milik mereka, yang lalu diberi nama Speedee service system. Berawal dari sini, Ray melihat adanya peluan untuk mencoba manjadi bagian dari McDonald dan mengembangkan usaha restoran tersebut dengan membuka cabang di lokasi lain. Namun ternyata McDonald bersaudara menolaknya, karena mereka telah mencoba beberapa kali dan gagal dengan alasan kurang-nya kontrol kualitas.

Ray lalu mencari cara bagaimana agar dapat tetap membuka cabang dilokasi lain namun tetap mampu menjaga kualitas makanannya. Akhirnya, munculah ide untuk me-waralaba-kan McDonald. Walaupun sempat ditolak oleh McDonald bersaudara, namun akhirnya Ray diijinkan untuk bekerjasama dengan McDonald bersaudara melalui sistem Waralaba. Ray kesana kemari mencari modal hingga akhirnya menggadaikan rumahnya untuk modal pembangunan restoran waralaba McDonald pertama di Des Plaines, Illinois. Berawal dari satu restoran, berbekal kegigihannya Ray lalu berusaha terus memperluas waralaba miliknya, nggak cuma itu aja, Ray juga kerap melakukan inovasi-inovasi visioner untuk mengembangkan bisnisnya. Namun hal ini ternyata bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung McDonald bersaudara.

Puncaknya, di tahun 1961. McDonald bersaudara menuntut Ray Kroc atas pelanggaran kontrak waralaba yang telah mereka sepakati diawal Tuntutan ini lalu berakhir dengan pembelian Merk McDonald sebesar $2.7 Juta, yang masing-masing dari McDonald bersaudara dapet bagian; $1 Juta dipotong pajak. Namun, sayangnya Kroc nggak bersedia untuk memberikan royalti kepada McDonald bersaudara.

Sisa ceritanya silahkan tonton sendiri.

Seperti yang udah gua bilang di review film sejarah atau biography sebelumnya (baca: Review Hacksaw Ridge), kalo film dengan genre seperti sangat sulit untuk mengutak-atik jalan cerita. Namum di film ini John Lee Hancock berhasil membuat jalan cerita yang menjemukan menjadi sangat menarik. Pun, mungkin banyak dari penonton yang udah tau gimana sejarah berdirinya McDonald, masih akan menemukan keasyikan tersendiri saat menonton film ini. Hancock, berhasil memaksimalkan akting Michael Keaton hingga membuat jalan cerita jadi terkesan nggak begitu penting. Plot ceritanya maju, ada satu atau dua flashback minor yang nggak mempengaruhi alur cerita. Sinematografinya pun nggak terlalu brilian, kenapa? karena ekspos kota-kota di Amerika pada jaman itu nggak terlalu luas, ya hanya sekitar restoran dan interior ruangan yang memang di eksekusi mendekati setting aslinya.

Kualitas Michael Keaton kayak yang udah gua bilang diatas; keren banget. Walaupun gua nggak tau gimana sifat Ray Kroc aslinya. Namun penggambaran sosok pria gigih, tekun dan sedikit greedy berhasil dibawakan sama Michael Keaton dengan ciamik. Gua yakin sebagian dari lu yang udah nonton nih film berusaha untuk nggak membenci dia karena sifat serakahnya tapi di sisi lain kalian nggak bisa terlalu sebel karena sifat pantang menyerahnya, dilema kan? Sedangkan untuk scoring musik dan kualitas akting aktor lainnya, terbilang biasa-biasa ajah buat gua.

Satu hal yang bisa diambil dari film ini adalah tentang betapa kejamnya dunia Bisnis. Man! kalo lu tau gimana keselnya keluarga McDonald ngeliat kesuksesan Ray Kroc diatas penderitaan kakek buyut mereka. Hingga saat ini kalau McDonald dapet royalti dari Waralaba restoran ini, mungkin keluarga McDonald bakal terus menerus ada di daftar 100 orang terkaya didunia versi Forbes. Paitnya lagi, di film ini juga digambarkan kalo McDonald bersaudara harus melepas papan nama McDonald di restoran miliknya karena Merk McDonald udah dibeli sama Ray dan mengganti namanya menjadi Big M, parahnya (lagi) Ray sengaja membangun restoran McDonald di seberang restoran Big M untuk ‘membunuh’ usaha dari McDonald bersaudara. Bisnis itu kejam, teman!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s