Banyak review positif dari berbagai media mengenai film Wonder Woman yang ‘hype’ banget, di IMDB aja Wonder Woman dapet rating 8.1 dari 100ribuan user. Sedangkan situs Rotten Tomatoes yang notabene ‘rada’ pelit sama rating, ngasih 92% buat nih film. Di beberapa situs lokal juga kompak ‘memuja’ film ini, bahkan di game Injustice 2 yang sedang gua mainkan, rela mengeluarkan update demi mengubah opening scene dan menambah karakter Wonder Woman kedalam gamenya, persis satu minggu sebelum film-nya rilis. Gua jadi penasaran dong, apa bener nih film se-hype yang diberitakan atau hanya akal-akalan DC dan Warner Bros buat dongkrak popularitas yang selama ini jeblok.

Film dibuka dengan adegan Diana sedang berada di Louvre, Prancis. Dan doi kedatangan kiriman dari Bruce Wayne yang ternyata isinya adalah foto asli Diana bersama kawan-kawannya semasa Perang Dunia I. Plot kemudian mundur kemasa saat Diana kecil dan tinggal di sebuah pulau bernama; Themyscira, sebuah pulau yang terisolasi secara gaib dari dunia luar dan hanya dihuni oleh para wanita suku Amazon. Diana (Lilly Aspell) lahir dari tanah liat yang kemudian ditiupkan ruh oleh Zeus, dirawat dan dibesarkan oleh Hippolyta (Connie Nielsen) Ratu dari Themyscira dan sekaligus Ibu dari Diana. Suku Amazon di Themyscira memiliki doktrin kalau semua manusia itu diciptakan dengan hati yang baik, yang membuat manusia menjadi jahat dan senang berperang adalah Ares, anak Zeus dan juga dewa perang, berpegang dengan doktrin tersebut, Antiope (Robin Wright) yang seorang Jendral Amazon dan sekaligus adik dari Hippolyta sangat ingin melatih Diana agar dirinya mampu bertahan saat Ares kembali dan menyerang merek. Proses pelatihan Diana pun dimulai, dan karena emang keturunan dewa, kemampuan bertarung Diana nggak sepele, Antiope dan rekan-rekan lainnya sampai terkejut dibuatnya.

Image source: http://www.impawards.com

Suatu hari, secara tak sengaja sebuah kapal menembus isolasi gaib dan jatuh di lepas pantai pulau Themyscira. Diana dewasa (Gal Gadot) yang melihat hal itu lalu terjun kelaut dan mencoba menolong pilot yang terjebak didalam pesawat, pilot tersebut adalah mata-mata Inggris untuk Jerman bernama; Steve Trevor (Chris Pine). Ternyata si Steve sedang dalam pengejaran dan nggak lama berselang segerombolan tentara Jerman berhasil menembus isolasi gaib dan kemudian memburu Steve yang sudah dalam perlindungan Diana dan suku Amazon. Singkat cerita, Diana yang masih berfikir kalau sebab musabab perang di dunia Steve dikarenakan campur tangan Ares, akhirnya ikut Steve kembali untuk membunuh Ares dan membantu menghentikan perang.  Sesampainya di London, Diana yang emang ‘kampungan’ terlihat shock dengan peradaban dan kebudayaan yang sangat berbeda jauh dengan di Themyscira, tempat tinggalnya. Setelah beberapa waktu beradaptasi dengan adab dan cara berperilaku di dunia normal, Steve yang ditemani Sameer (Saïd Taghmaoui) si ahli penyamaran, Charlie (Ewen Bremner) si penembak jitu dan Chief (Eugene Brave Rock) si penyelundup, kemudian membawa Diana ke garda depan untuk menghadapi pasukan Jerman yang di pimpin oleh Jendral Ludendorff (Danny Huston) dan Profesor ahli Biokimia bernama Dr. Maru (Elena Anaya) yang tengah berusaha membuat senjata biologi untuk memenangkan perang.

Nah sisa ceritanya silahkan ditonton sendiri

Setelah gua selesai nonton filmnya, you know what i feel? honestly i have no idea why so many people think it’s so amazing. Buat gua secara pribadi nih film biasa aja. Okelah, gua akui film ini mungkin lebih baik daripada beberapa film DC sebelumnya kayak Green Lantern yang emang sampah banget dan Batman V Superman yang feel-nya kurang mengena. Tapi jelas film ini masih belom bisa ngalahin The Dark Knight -nya Christopher Nolan (kalo perbandingannya sesama film DC). Sorry to say nih, buat yang mungkin nggak setuju dengan komentar gua, tapi gua punya beberapa alasan kenapa gua nggak begitu setuju dengan banyak pendapat orang yang menganggap film ini suangat emejing, here we go.

Gua kasih tau dulu kenapa nih film lebih baik dari film DC sebelumnya;

Setting. Untuk setting-nya terbilang ciamik buat gua. Apalagi penampakan Themyscira yang super kece, pulau terpencil, terisolasi dan punya keindahan luar biasa kayak disurga. FYI, lokasi syuting Themyscira ada di Amalfi Coast, Itali setelah tim pra produksi mereka survey ke 47 lokasi sebelumnya. Setting lokasi lain kayak London dan Belgia semasa perng dunia I pun masih bisa dibilang ‘oke’ walaupun gua yakin banyak banget sentuha CGI di lokasi-lokasi tersebut.

Image Source: http://www.buzzfeed.com/

Gal Gadot Effect. Yes! Bisa jadi film Wonder Woman ini bisa dapet perhatian dan atensi besar karena Aktris asal Israel ini. Dunia film Holywood dan perfilman lokal kita khusus-nya, miskin banget sama yang namanya Jagoan/superheroes cewek. so, people love watching a hot woman kicking ass. Mungkin film bagus terakhir yang gua tonton dimana jagoannya cewek adalah Kill Bill, Underworld atau Hunger Games? Akting Gal Gadot disini juga menurut gua oke dan total banget. Menurut info yang gua baca malah doi sempet-sempetin workout selama 9 bulan untuk menambah massa ototnya sampai terlihat seperti yang kalian liat di film. Bukan cuma Gal Gadot, akting dari lawan mainnya; Chris Pine juga nggak bisa dibilang standar dan oke punya.

The Fight. Mungkin ini satu satunya hal paling menonjol di film Wonder Woman ini. Adegan fight nya walaupun pendek-pendek tapi sangat memorable dan kece. Ya jelas aja,  Connie Nielsen yang memerankan ibunya Diana pernah bilang begini;  “we have 3,000 calories a day, and then do two hours of weightlifting, two hours of swordplay, and two hours of horseback riding.” yang mana model latihan kayak begitu nyaris sama dengan yang dilakukan para aktor di film 300 -nya Gerard Butler.

Image source: http://www.buzzfeed.com

And so on, berikut adalah kenapa nih film nggak sebagus seharusnya;

The Plot hole. Ada beberapa plot hole yang ‘nyata’ di film ini. Salah satu yang paling kentara adalah perkara umur si Diana. Diceritakan kalau Diana merupakan turunan langsung dari Zeus, makanya doi punya kekuatan super. Tapi, Diana kecil tumbuh menjadi dewasa (Saat perang dunia 1) lalu seperti yang kita ketahui Diana tetep kekal sampai zaman sekarang (Based on film Batman v Superman). Pertanyaannya, kenapa pertumbuhan Diana terhenti saat usia dia sekarang ini? kalaupun memang ada jawabannya, hal itu nggak dijelaskan didalam film.

The Script. Nama Zack Snyder sebagai sutradara emang nggak ada lawannya tapi  sebagai penulis ternyata nggak begitu ngaruh ke jalan cerita film ini. Beberapa hal yang keliatan sampah di film ini adalah pemeran antagonisnya. Pemeran antagonis di film ini nggak di kasih porsi berimbang dibanding dengan tokoh utama, bahkan masih nggak berimbang dibanding pemeran pembantu kayak Saïd Taghmaoui yang memerankan Sameer.  Selain itu munculnya peran pembantu yang melengkapi team-nya Steven tanpa ada motif dan tujuan yang jelas mereka mau ikutan ke garda depan dengan Steven. Mungkin ini dibuat untuk melengkapi scene foto Diana dengan Steven dan teman-temannya yang udah terlanjur muncul di Batman V Superman.

Ya kira-kira itulah beberapa alasan gua mengapa menganggap film ini biasa-biasa aja, ya memang masih banyak hal positif yang bisa digali di film ini, tapi ada beberapa hal juga yang masih standar kayak Efek CGI ledakan yang masih sedikit keliatan ‘bikinan’ atau penampilan musuh yang nggak susah-susah banget. Gua nggak pernah bilang nih film jelek, tapi gua kurang setuju juga kalo nih film di bilang sangat baik sekali. Anyway, nih film cocok banget ditonton buat ngabuburit atau ngabisin waktu puasa. Happy watching!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s